Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran dan Tradisinya

Bismillahirrohmannirrohiim,

Idul Fitri adalah hari yang banyak dinantikan oleh kaum muslimin. Kita dapat melihatnya dari aktivitas mudik dan maraknya bingkisan-bingkisan istimewa yang dijual menjelang Idul Fitri. Namun kadang kita kurang memaknai apa sih yang ada di balik Idul Fitri? Lalu buah apa yang kita peroleh saat mendapati hari Idul Fitri. Ini yang perlu kita renungkan.
Amalan Menjelang Idul Fitri
Idul Fitri adalah hari yang berulang setiap tahunnya sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan. Salah satu kewajiban yang ditunaikan menjelang Idul Fitri adalah zakat fitri. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hasan)
Penghujung Ramadhan ini ditutup pula dengan takbir sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Takbir ini disunnahkan untuk dikumandangkan sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 171)
Saling mendoakan agar amalan kita di bulan Ramadhan diterima juga suatu hal yang dianjurkan saat hari raya. Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fitri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan (Fathul Bari, 2: 446).
Bagaimana Seharusnya Keadaan Kita di Hari ‘Idul Fithri?
Beberapa amalan yang dijalani di bulan Ramadhan berisi pengampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu pula pada amalan shalat tarawih, di dalamnya juga terdapat pengampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan amalan shalat juga akan mendapatkan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
Begitu pula pengeluaran zakat fitri di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fitri akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia.
Begitu banyak amalan di bulan Ramadhan yang terdapat pengampunan dosa sampai-sampai Ibnu Rajab mengatakan, ”Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.” (Lathaif Al Ma’arif, 371)
Setelah kita mengetahui beberapa amalan di bulan Ramadhan yang bisa menghapuskan dosa-dosa, maka seseorang di hari raya Idul Fitri, ketika dia kembali berbuka (tidak berpuasa lagi) seharusnya dalam keadaan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa. Az Zuhri berkata, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, “Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.” Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Lathaif Al Ma’arif, 366). Dikatakan demikian karena sungguh amat banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan.
Dari sini, seharusnya setelah Idul Fitri, seorang muslim bisa menjadi lebih baik. Ibadah yang biasa rutin dijaga di bulan Ramadhan berusaha terus dirutinkan semisal menjaga shalat jama’ah (bagi pria), berusaha terus shalat malam dan giat berpuasa sunnah. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99) (Lathaif Al Ma’arif, 392). Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim).
Khawatir Amalan Tidak Diterima
Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih kukhawatirkan daripada banyak beramal.” Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.” Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”
‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkata tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”
Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh antara kita dengan mereka (Lathaif Al Ma’arif, 368-369).
Semoga perjumpaan dengan Idul Fithri, kita mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa kelak dengan Allah.
Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, ST

Kamis, 25 Juli 2013

Anak berkebutuhan khusus atau hanya perlu dorongan dan kesabaran untuk berkembang

Assalamualaikum wr wb
Ternyata susah susah gampang membuat blog sendiri, tapi walaupun baru saya merasakan manfaat nya, ya itung itung untuk menulis demi kepentingan pribadi sukur sukur dapat komen yang membangun.

Alasan saya membuat blog ini adalah untuk sharing terutama tentang pendidikan anak dalam keluarga. Bagaimana  cara kita menyikapi hidup sebagai seorang ibu dan tentu saja sebagai seorang istri.

Berbagi pengalaman tentang anak saya yang pertama, dia bernama Bintang. Umurnya sekarang 5,5 tahun dan duduk di TK B. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana dia sewaktu kecil sampai saya harus memutuskan untuk memberikan kehidupan saya yang dulu banyak ambisi menjadi "hanya" seorang ibu bagi anak anak saya.

Bintang lahir secara normal dengan bb 3,4 kilo. Badannya begitu bersih dengan muka yang rupawan kalo boleh saya bilang ; ). Seiring dengan perkembangannya, ada sesuatu yang menurut saya agak berbeda. Setiap dipanggil namanya, dia tidak respon dan hanya bisa berteriak saja. Bahkan sampai umur 2 th dia belum bisa membuat kalimat sepenggal pun, apa yang dia rasakan dan inginkan. Hal ini membuat saya khawatir sebab selain itu dia belum bisa bergaul dengan teman sebaya nya.

Saya membicarakannya dengan suami saya dan memutuskan bahwa Bintang perlu bantuan. Ketika umur 18 bulan saya sudah memutuskan memberikan Bintang bantuan dengan memasukkannya ke terapi di sebuah hospital tumbuh kembang anak atas saran seorang dokter. Akhirnya tibalah waktu assesment atau penilaian/pemeriksaan awal atas diri Bintang. Memang ada yang aneh sebab dia tidak merespon sama sekali apa yang dokter minta lakukan kepada anak saya. Dari menyusun balok, menyamakan gambar sampai tanya jawab sederhana, dia tidak merespon sama sekali alias mainan seenaknya sendiri. Akhirnya dokter menyarankan bintang membutuhkan terapi namun sang dokter tidak memvonis apakah bintang mengidap autis atau adhd. Saya juga baru tahu tentang anak berkebutuhan khusus dengan search di internet mengingat Bintang mempunyai ciri yang hampir sama dengan "HAL ITU".
Terapi pertama kali yang di berikan yaitu Snoezelen dan Sensori Integrasi. Dokter pernah mengingatkan bahwa Bintang belum di tetapkan sebagai anak berkebutuhan khusus atau tidak, hanya dia mempunyai masalah konsentrasi atau kurang fokus sehingga diberikan terapi yang dibutuhkan. Tapi bagi saya sama saja, mengetahui Bintang harus di terapi saja sudah membuat saya begitu sedih dan kasihan padanya.
BAyangkan saya menangis terus selama berhari-hari memikirkan bagaimana masa depannya, pergaulannya, sekolahnya atau apa-apanya nanti.
Inilah awal dari kehidupan saya menjadi seorang ibu baru dan akhirnya saya memutuskan untuk memberikan semua waktu, pikiran dan tenaga saya untuk Bintang tercinta. Persetan dengan semua impian saya menjadi seorang wanita karir, bekerja di perusahaan bonafid atau apa saja namanya yang bisa mendongkrak status saya sebagai seorang wanita dengan pendidikan tinggi nya di lingkungan baik keluarga maupun masyarakat sekitar. Yang terpenting adalah anak saya, saya ingin mendidik dia dengan tangan saya sendiri, dengan segenap kemampuan yang saya miliki, saya memutuskan menjadi IBU RUMAH TANGGA.

Setiap menceritakan atau mengingat  hal ini, saya menangis. Saya waktu itu sendiri, jauh dari orang tua dan baru saja menjadi ibu, tetapi saya sudah harus mengalami hal seperti ini. Saya bersyukur mempunyai seorang suami yang selalu memberikan harapan dan dorongan untuk saya setiap waktu.Suami saya setuju dan memang menyarankan bahwa saat itu Bintang adalah yang terpenting bagi hidup kami.

Pertama kali Bintang menjalani terapi selama 2 kali seminggu di RS tersebut dan setiap masuk ruang terapi saya begitu terenyuh melihat dia hanya berteriak teriak saja sambil melihat saya yang berdiri di luar lewat jendela. Begitulah, terapi demi terapi saya jalani. Mungkin cerita mengenai terapi yang Bintang jalani akan saya ceritakan sendiri di entri yang lain saja, sebab panjaaaaaaaaang sekali storynya. He...he...he...

Tujuan saya sharing di entri ini adalah memberikan info kepada para ibu bahwasanya apapun yang terjadi pada anak kita, kita sebagai orang tua harus punya feeling dan kedekatan teruatama emosional thd anak  kita. Bintang saya terapi dari umur 18 bulan sampai 3 tahun, dan alhamdulillah sekali, begitu banyak kemajuan yang dia alami seiring dengan terapi yang dia jalani. Dia mulai mengucapkata, memanggil, bergaul dan kegiatan2 lain yang sama dengan teman sebayanya. Ada satu hal lagi yang banyak membantu perkembangannya dia, yaitu kasih sayang dan waktu yang saya curahkan sepenuhnya untuk Bintang, sebab terapi hanya bisa mengevaluasi keseharian yang telah dia jalani dan hari hari itu adalah bersama saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya tidak di sisinya.

Sampai terapi saya hentikan, dokter tidak menyatakan bahwa dia termasuk anak berkebutuhan khusus tetapi bagi saya sama saja sebab bintang ada sedikit gangguan konsentrasi dan perlu banyak puzzle untuk mengurangi gangguan tersebut.

Sekarang Bintang sudah duduk di TK B, pintar mewarnai sebab kata gurunya rapi sekali mewarnainya, pintar menyanyi, suka bermain kejar kejaran, berantem dengan adeknya, suka motong pembicaraan orang tuanya, tukang ngadu atas kenakalan adeknya, senang membantu pekerjaan rumah dan masih banyak lagi

Hal yang membuat saya bangga sekali padanya ternyata Bintang mudah sekali mengingat hafalan Surah Al Qur'an. Bayangkan, Iqro' 6 sudah hampir tamat dan hafalan surahnya di juz 30 sudah lebih dari 10 surah dan masih akan dan harus bertambah lagi. Satu lagi yang patut saya syukuri, itu semua saya yang mengajarkan dan agar memudahkan dia nanti kalo mengaji di luar rumah, sampai detik ini saya tetap berupaya yang terbaik untuk anak-anak saya dan perjuangan saya sepertinya masih cukup panjang sebab Al Fatih (adeknya Bintang) sudah mulai senang menghafal Surah Al Quran ngikutin kakak nya juga. Saya juga masih harus mengajarkan anak kedua saya hal hal baru sebab saat ini umur 2 tahun, Al fatih sedang nakal nakalnya dengan segala keingintahuan nya dan keisengannya suka mengganggu sang kakak.

Demikian entri saya, saya akan melanjutkan lagi dengan tema lain kapan-kapan. Anak2 saya mulai berantem lagi tuh...
Wassalamulaikum wr wb

salam kenal

Assalamualaikum wr wb,
Salam perkenalan buat para komunitas blogger dan para pembacanya. Saya seseorang yang benar-benar baru dalam permasalahan blog ini, jadi jika nanti berkunjung terdapat kesalahan dan keanehan bentuk atau suasana di blog saya, mohon maklum.
Perihal yang akan sering saya perbincangkan di blog saya  adalah terutama tentang tumbuh kembang anak dan beberapa permasalahan yang sedikit saya singgung tentang anak2, sebab sampai sekarang saya masih merasa amazed to be a mom for my both boys. Di samping perihal di atas juga sharing tentang to be a wife, a moslem dan bagaimana pendidikan agama sangat berpengaruh bagi anak2 kita dalam menghadapai masa depannya kelak. Saya hanya berharap banyak para pembaca dapat memberikan masukan dari blog saya tentang apa yang tadi sudah saya jabarkan diatas.
 Semoga blog saya dapat membantu para pembaca, trimakasih
Akhir kata,
Wassalamualaikum wr wb